SIFILIS PADA REMAJA DENGAN ATAU TANPA KOINFEKSI HIV

Authors

  • Enricco Hendra Mamuaja Universitas Sam Ratulangi

Keywords:

koinfeksi HIV, remaja, sifilis

Abstract

Sifilis adalah infeksi sistemik kronik akibat Treponema pallidum yang ditularkan melalui kontak seksual, transmisi vertikal, dan darah. Koinfeksi HIV dapat memengaruhi manifestasi klinis, perjalanan penyakit, serta respons imun. Masa inkubasi berkisar 10-90 hari. Stadium sifilis meliputi primer, sekunder, laten (dini dan lanjut), tersier, serta neurosifilis, dengan presentasi yang dapat lebih agresif pada pasien HIV. Remaja dengan sifilis, dengan atau tanpa koinfeksi HIV, menunjukkan variasi gejala mulai dari chancre dan limfadenopati regional hingga ruam makulopapular, kondiloma lata, lesi mukosa dan gejala sistemik. Pada koinfeksi HIV, lesi dapat multipel, atipikal, serta meningkatkan risiko keterlibatan neurologis. Diagnosis ditegakkan melalui uji non-treponemal untuk pemantauan dan uji treponemal sesuai rekomendasi WHO. Terapi utama adalah penisilin sesuai dengan stadium. Pemantauan berbeda menurut status HIV, dengan evaluasi lebih sering pada pasien HIV hingga 24 bulan. Respons adekuat ditandai penurunan titer ≥4 kali lipat, sedangkan kegagalan terapi ditentukan oleh tidak tercapainya penurunan tersebut atau kekambuhan klinis. Koinfeksi sifilis-HIV memengaruhi manifestasi dan tata laksana. Diagnosis terus berkembang, penisilin tetap menjadi standar terapi, dan tindak lanjut sangat penting terutama pada pasien HIV.

Downloads

Download data is not yet available.

Published

2026-09-17

How to Cite

Enricco Hendra Mamuaja. (2026). SIFILIS PADA REMAJA DENGAN ATAU TANPA KOINFEKSI HIV. The Abstract Proceedings of the Scientific Meeting of the Indonesian Society of Dermatology and Venereology, 1(1), 10. Retrieved from https://conference.perdoski.id/index.php/insdv/article/view/14