MANIFESTASI KULIT IMMUNE RECONSTITUTION INFLAMMATORY SYNDROME (IRIS) PADA PASIEN HIV

Authors

  • Lita Setyowatie Universitas Brawijaya

Keywords:

HIV, IRIS, reaksi Obat

Abstract

Human immunodeficiency virus (HIV) masih menjadi masalah kesehatan utama di seluruh dunia. Infeksi HIV menyebabkan tidak hanya insufisiensi imun tetapi juga disregulasi imun. Disregulasi imun akibat infeksi HIV dapat menyebabkan reaksi alergi. Beberapa reaksi alergi berkisar dari gejala ringan hingga mengancam jiwa. Penting untuk mempertimbangkan manifestasi alergi, terutama pada obat-obatan yang rutin digunakan pada HIV (ART). Antiretroviral therapy (ART) memperkuat sistem kekebalan tubuh dan memulihkan respons imun spesifik. Hal ini mengakibatkan penurunan kejadian infeksi oportunistik (IO), penurunan viral load, dan peningkatan jumlah CD4+. Dengan pemulihan kekebalan tubuh, tubuh mulai melawan infeksi yang ada secara agresif sehingga menyebabkan inflamasi parah pada jaringan. Kumpulan gejala klinis, tanda, atau parameter penunjang yang dihasilkan dari respons inflamasi tersebut disebut dengan immune reconstitution inflammatory syndrome (IRIS). Tidak semua ruam yang muncul setelah memulai ART adalah ruam akibat obat, IRIS sangat mirip. Kegagalan mendiagnosis IRIS dalam situasi seperti itu tidak hanya akan menyebabkan penghentian obat-obatan penting yang tidak perlu, tetapi juga akan menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang cukup besar.

Downloads

Download data is not yet available.

Published

2026-09-17

How to Cite

Lita Setyowatie. (2026). MANIFESTASI KULIT IMMUNE RECONSTITUTION INFLAMMATORY SYNDROME (IRIS) PADA PASIEN HIV. The Abstract Proceedings of the Scientific Meeting of the Indonesian Society of Dermatology and Venereology, 1(1), 19. Retrieved from https://conference.perdoski.id/index.php/insdv/article/view/23